Minggu, 18 Agustus 2013

SEBAIT LARA

Telah kularungkan semua tentangmu
Agar tak ada apapun jejak yang mempertautkan kita
Seperti ketika hujan menghapuskan rekah debu oleh dera mentari
Usailah segala yang pernah kita anggap sebagai cerita
Dan ijinkan ku melihat segalanya 

sebagai silam masa dalam rentang waktu
Biarkan semua jadi sebait lara


Sabtu, 17 Agustus 2013

SELEMBAR INGAT

Ada seribu sepi menari di puncak hati 
saat selembar parasmu melintas 
Desir angin ditimpa gemericik daun ketapang 
Bagai dendang pantai penuhi tak berdayaku 
oleh dahaga akanmu 

Dan ku selalu harus menindih ribu senyap itu 
Walau dalam diam perih ini menyalipku 
Mencaricari ruang untuk menepis kehampaan 
oleh raibmu



Rabu, 14 Agustus 2013

IJINKAN AKU MENGINGATMU

Ijinkan ku sekali lagi mengingat wajahmu
menelusuri jejak waktu kala tangis juga tawamu meriap
di beranda senyap yang selalu buatku betah
mendengar cerita juga menatap matamu
dan kau biarkan tanganku merayap
hingga diam dan nafasmu memburu
kelokan jalan yang menanjak
dan gugur daun akasia
semua telah pergi mengering
di sudut waktu
sambil kita melupakannya satusatu.

 

IHWAL ANAK-ANAK

Anak-anakmu bukanlah milikmu!
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu 
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri 
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang Pemanah telah membidik arah keabadian, dan Ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh...
Jadikanlah tarikan tangan sang Pemanah itu sebagai kegembiraan,
Sebab ketika Ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka Ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan. ~
[Kahlil Gibran]
 

Selasa, 13 Agustus 2013

IA HANYA INGIN CINTA

di sebuah jalan setapak yang sunyi aku
dan kau masih sempat berpeluk dingin malam
ketika cinta hendak rontok dari pohonnya
sangat terasa di jantung kita
cinta kasih seperti daun ditiup angin
dendam tak diharap setelah perpisahan itu
meski tangisnya tak mengeluarkan sebutir airmata
karena sumur di matanya telah kering

Pun cintanya
pipinya yang tak pernah lembut
sementara kumis ubanan masih menempel
di dinding hatinya yang keriput
terlalu usang untuk kembali riang
merangkai kisah yang sudahsudah

dengan gontai cintaku pergi ke bilik tangisnya
di sebuah gedung yang dibuat dari peluh kasih berdua
yang sebentar lagi akan menjadi rumah kebahagiaannya
kemudian mengunci rapat isak bibirnya di sudut kamar

ia hanya ingin cinta
tanpa tekanan
ia hanya ingin merdeka dari rasa malu yang panjang
lalu tega dipisahkannya hati dan jantung dari kehidupan
sambil berharap duapuluh menit
sebagai duapuluh tahun masa menunggu
setidaknya cinta bersua jiwa.
   

14 Agustus 2013
03.03 wita Meras-Cempaka  
 

SEANDAINYA KAU PULANG

aku tahu kau ingin pulang
menemui semua yang kau rindukan

pulau, jejak ibunda, sanak keluarga
mungkin juga ada sosok kau sebut cinta

sudahkah kau punya peta tentang sisi jalan
jalan yang sudah lama kau tinggalkan
hingga kau temukan lagi marka, silsilah, artefak dan…
semua kenangan yang kini tak lagi kau hafal. kecuali laut itu

di laut itu keteguhan tinggal ada pada gelombang
dan kelenjarkelenjar ombak menjalar hingga ke ujung petang
mengabadikan rupa warna paling kau kenang dari tawa ibunda
juga lambaian orangorang pada pesta perpisahan

selebihnya, tinggal reruntuhan berhamburan
ke lantai samudera paling gelap
dengan sejarahnya yang telah lama ikut tenggelam

mungkin kau akan ingat musim ketapang berbuah
atau tarian dedaunan pandan di harihari berangin
perahuperahu melabu dan pergi membiar bandar sepi
seakan pulau ini kekasih ihklas menanti

kecuali bebunyi hujan menakutkanmu di masa kecil
semua telah berubah lebih menakutkan lagi
seperti bunyi mesin gergaji menumbang kenangan terakhir
dari semua pangkal yang akan kau sesali
bila tiba nanti

pelepah pinang tempat burung burung meniti
pun telah mengering menanti kau kembali
menyiangi benih di petak ladang peninggalan moyang

padahal seperti ibunda, mereka ingin di sana ada nyanyi kepodang
yang selalu kau puisikan untuknya
dalam metafora burung bersayap kuning keemasan
yang pandai mengulang segala yang indah di nadi saman

di enemawira pasirpasir pesisir itu menyimpan bau garam
buat semua mimpimu yang sempat karam
katamu akan kau asah lagi di ketajaman karang

kini musimmusim menumbuhkan lumut ke bahu bukit batu
ke tiangtiang mercusuar. perahumu belum juga datang

seandainya pun kau datang, puisi apa yang akan kau tuliskan
di tengah pulau yang ramai dengan pemandangan makam


 
Karya dari sahabatku: Iver Tinungki

Senin, 04 Februari 2013

LIMA HARI GELORA CINTA

Langkahmu ternyata pasti
mengayu ke labuhan di ruang tunggu
di sana kita saling mencari
kutemukan dirimu nyaris lelah menunggu

masih ada sedikit benci terlukis di dahimu
sebagai guratan kasar dari cintaku yang menderitakanmu sejauh jalan kita
dan banyak lelah untuk karya yang telah kubuat itu
sekiraku mengasa cintamu dan menajamkan lakumu

dari tepi dermaga kulempar sebongkah rindu
tertangkap oleh mata polos beningmu
lalu kupetik sarang madu di dagu manismu

walau baru bertemu sewaktu
hatiku telah bergetar seabad yang lalu
aku terus memompa kecamuk rindu
arus menguat dan gelombang menggulung cintaku di antara pasukan kecoak yang cemburu
nyamuk jadi malu
ikan berhenti berenang
sementara bulan akan beringsut surut
hanya laut yang terus mendendang senandung rindu
mencurahkan gejolak rinduku di kulit mulusmu

dari mulutmu dan mulutku melesat gumam dan kagum sekaligus
pertanda heran dan cinta menjadi satu
kembali menjadi satu
meski masih malu-malu

Tapi laut segera pergi
kuturunkan layar cintaku
karena kau tak seperti dulu lagi

Terketuklah cintamu
bergetar nadi cinta yang hidup
jantungku

menggelora dalam bahasa, semangat dan menggulung ombak
cintamu dan cintamu berpadu di malam kedua
menggiring kita ke samudera lepas
melepas cinta hingga total
aku menjadi kau dan kau menjadi aku oleh getar
setiap getar adalah akar
sumber kehidupan kita

geloramu dan geloraku adalah satu
kita menemukan milik yang selama ini hilang
lalu kita bicara tentang kesucian
bahwa cinta adalah suci
suci adalah cinta
sedangkan aturan adalah penjara yang menyiksa
cukuplah itu di malam kedua

aku dan kau tak terpisahkan
getarmu menarik jantungku kedalam dirimu
hidup di dalamnya seumur waktu
mencintaimu
mencintaiku
dari malam ketiga
keempat dan kelima
sampai kekallah cinta kita
di setiap hari
setiap waktu