RINDU
Lolongan
serigala di tepi laut Bitung mengundang hadir penghisap darah,
bertengkar dalam club malam tentang sebuah nista. Kemarau Timika
mengusirmu kembali dengan beban seribu berat. Tiada markas sebaik
rumahmu. Tiada kasih sindah ibumu. Teladan jejaknya tak kau hiraukan.
Hanya aura ayah dari selatan yang menghadirkan air mata kutukan di negri
yang dibangun ibumu dengan martabat mulia. Di sana ia terus melambaikan
tangan pertanda harap engkau kembali ke pangkuannya.
Kepada
ilalang pangiang sampaikan salamku kepada daun jati di perkebunan pandu.
Kepada rumput bukit pandu, titip rindu buat daun pisang pangiang.
Lupakanlah darunu, bila kabut telah menutup langit jingga pantai patuku.
Biarkan panas Makalehi terus membara dalam dada kaum tertekan yang
sebentar lagi menjadi gembira sorak kemenangan di teluk tahuna. Karena
kemanapun aku selalu memelukmu, hingga engkau kembali lagi ke peraduan
dua bersaudara.
Lalu mengapa engkau terus berlari dalam suram
yang gelap sambil berteriak dendam sehasta demi sehasta. Menumpulkan
pasir-pasir baja-baja panas yang membakar dirimu hingga tak berasa.
Dalam segala durhakamu, kutunggu kau di titik nol.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar