Kamis, 03 Januari 2013

RINDU

Lolongan serigala di tepi laut Bitung mengundang hadir penghisap darah, bertengkar dalam club malam tentang sebuah nista. Kemarau Timika mengusirmu kembali dengan beban seribu berat. Tiada markas sebaik rumahmu. Tiada kasih sindah ibumu. Teladan jejaknya tak kau hiraukan. Hanya aura ayah dari selatan yang menghadirkan air mata kutukan di negri yang dibangun ibumu dengan martabat mulia. Di sana ia terus melambaikan tangan pertanda harap engkau kembali ke pangkuannya.

Kepada ilalang pangiang sampaikan salamku kepada daun jati di perkebunan pandu. Kepada rumput bukit pandu, titip rindu buat daun pisang pangiang. Lupakanlah darunu, bila kabut telah menutup langit jingga pantai patuku. Biarkan panas Makalehi terus membara dalam dada kaum tertekan yang sebentar lagi menjadi gembira sorak kemenangan di teluk tahuna. Karena kemanapun aku selalu memelukmu, hingga engkau kembali lagi ke peraduan dua bersaudara.

Lalu mengapa engkau terus berlari dalam suram yang gelap sambil berteriak dendam sehasta demi sehasta. Menumpulkan pasir-pasir baja-baja panas yang membakar dirimu hingga tak berasa. Dalam segala durhakamu, kutunggu kau di titik nol.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar