Selasa, 13 Agustus 2013

SEANDAINYA KAU PULANG

aku tahu kau ingin pulang
menemui semua yang kau rindukan

pulau, jejak ibunda, sanak keluarga
mungkin juga ada sosok kau sebut cinta

sudahkah kau punya peta tentang sisi jalan
jalan yang sudah lama kau tinggalkan
hingga kau temukan lagi marka, silsilah, artefak dan…
semua kenangan yang kini tak lagi kau hafal. kecuali laut itu

di laut itu keteguhan tinggal ada pada gelombang
dan kelenjarkelenjar ombak menjalar hingga ke ujung petang
mengabadikan rupa warna paling kau kenang dari tawa ibunda
juga lambaian orangorang pada pesta perpisahan

selebihnya, tinggal reruntuhan berhamburan
ke lantai samudera paling gelap
dengan sejarahnya yang telah lama ikut tenggelam

mungkin kau akan ingat musim ketapang berbuah
atau tarian dedaunan pandan di harihari berangin
perahuperahu melabu dan pergi membiar bandar sepi
seakan pulau ini kekasih ihklas menanti

kecuali bebunyi hujan menakutkanmu di masa kecil
semua telah berubah lebih menakutkan lagi
seperti bunyi mesin gergaji menumbang kenangan terakhir
dari semua pangkal yang akan kau sesali
bila tiba nanti

pelepah pinang tempat burung burung meniti
pun telah mengering menanti kau kembali
menyiangi benih di petak ladang peninggalan moyang

padahal seperti ibunda, mereka ingin di sana ada nyanyi kepodang
yang selalu kau puisikan untuknya
dalam metafora burung bersayap kuning keemasan
yang pandai mengulang segala yang indah di nadi saman

di enemawira pasirpasir pesisir itu menyimpan bau garam
buat semua mimpimu yang sempat karam
katamu akan kau asah lagi di ketajaman karang

kini musimmusim menumbuhkan lumut ke bahu bukit batu
ke tiangtiang mercusuar. perahumu belum juga datang

seandainya pun kau datang, puisi apa yang akan kau tuliskan
di tengah pulau yang ramai dengan pemandangan makam


 
Karya dari sahabatku: Iver Tinungki

Senin, 04 Februari 2013

LIMA HARI GELORA CINTA

Langkahmu ternyata pasti
mengayu ke labuhan di ruang tunggu
di sana kita saling mencari
kutemukan dirimu nyaris lelah menunggu

masih ada sedikit benci terlukis di dahimu
sebagai guratan kasar dari cintaku yang menderitakanmu sejauh jalan kita
dan banyak lelah untuk karya yang telah kubuat itu
sekiraku mengasa cintamu dan menajamkan lakumu

dari tepi dermaga kulempar sebongkah rindu
tertangkap oleh mata polos beningmu
lalu kupetik sarang madu di dagu manismu

walau baru bertemu sewaktu
hatiku telah bergetar seabad yang lalu
aku terus memompa kecamuk rindu
arus menguat dan gelombang menggulung cintaku di antara pasukan kecoak yang cemburu
nyamuk jadi malu
ikan berhenti berenang
sementara bulan akan beringsut surut
hanya laut yang terus mendendang senandung rindu
mencurahkan gejolak rinduku di kulit mulusmu

dari mulutmu dan mulutku melesat gumam dan kagum sekaligus
pertanda heran dan cinta menjadi satu
kembali menjadi satu
meski masih malu-malu

Tapi laut segera pergi
kuturunkan layar cintaku
karena kau tak seperti dulu lagi

Terketuklah cintamu
bergetar nadi cinta yang hidup
jantungku

menggelora dalam bahasa, semangat dan menggulung ombak
cintamu dan cintamu berpadu di malam kedua
menggiring kita ke samudera lepas
melepas cinta hingga total
aku menjadi kau dan kau menjadi aku oleh getar
setiap getar adalah akar
sumber kehidupan kita

geloramu dan geloraku adalah satu
kita menemukan milik yang selama ini hilang
lalu kita bicara tentang kesucian
bahwa cinta adalah suci
suci adalah cinta
sedangkan aturan adalah penjara yang menyiksa
cukuplah itu di malam kedua

aku dan kau tak terpisahkan
getarmu menarik jantungku kedalam dirimu
hidup di dalamnya seumur waktu
mencintaimu
mencintaiku
dari malam ketiga
keempat dan kelima
sampai kekallah cinta kita
di setiap hari
setiap waktu 


Selasa, 29 Januari 2013

Sayap-sayap Patah (Khalil Gibran)

Wahai langit ....
Tanyakan pada-Nya 

Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini ....
Begitu rapuh dan mudah terluka ....
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta 

Begitu kuat dan kokoh ....
Saat berselimut cinta dan asa ....
Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini ....
Mengisi kekosongan di dalamnya 

Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya ....
Menghimpun berjuta asa ....
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira ....
Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa ....
Menghimpit bayangan ....
Menyesakkan dada ....
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa ....
Wahai ilalang ....
Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ? Mengapa kau hanya diam ....
Katakan padaku ....
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini ....
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini ....
Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali ....
Desiran angin membuat berisik dirimu ....
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku ....
Aku tak tahu apa maksudmu ....
Hanya menduga ....
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana ....
Menunggumu dengan setia ....
Menghargai apa arti cinta ....
Hati terjatuh dan terluka ....
Merobek malam menoreh seribu duka ....
Kukepakkan sayap - sayap patahku ....
Mengikuti hembusan angin yang berlalu ....
Menancapkan rindu ....
Di sudut hati yang beku ....
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin ....
Berserakan ....
Sebelum hilang diterpa angin ....
Sambil terduduk lemah 

Ku coba kembali mengais sisa hati ....
Bercampur baur dengan debu ....
Ingin ku rengkuh ....
Ku gapai kepingan di sudut hati ....
Hanya bayangan yang ku dapat ....
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya ....
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini ....
Ia telah patah ....
Tertusuk duri yang tajam ....
Hanya bisa meratap ....
Meringis ....
Mencoba menggapai sebuah pegangan ....

Selasa, 22 Januari 2013

DUNIA PARA IKAN

Sebagian ikan-ikan maha besar mengenakan jas menggiring ikan-ikan kecil ke dasar samudera gelap dengan jaminan di kedalaman itu banyak plankton. Memang, ikan-ikan kecil itu tahu di sana melimpah makanan. Ikan-ikan kecil masuk ke dalam kelam, mereka diburu ikan-ikan sedang, lalu dimangsa dengan nikmatnya. Ikan-ikan maha besar itu tidak memburu ikan-ikan kecil karena bagi mereka, "tambio (bahasa Sangihe: ikan yang makan lumut batu) bukan makanan sehat di kelasnya. Tambio si ikan kecil, hanya dimakan oleh mereka yang lapar, tetapi kantongnya tidak setebal ikan maha besar. Alhasil, dari kantong-kantong ikan sedanglah, si ikan maha besar makin memperbesar perutnya.
Ikan kecil yang malang, hendak berusaha keluar dari dasar kelam, karena disana martabat terinjak-injak oleh gelap. Kesenangan hanya sementara, leher mereka dibasahi sperma ikan-ikan sedang. Ikan-ikan kecil nyaris beku dalam kesepian. Ikan maha besar berhasil "merumahkan" ikan kecil dan makin sering menyediakan plankton dari hasil kotoran busuknya yang ditenggelamkan ke dasar sapitenk. Dari hasil makanan menjadi plankton, dari hasil pemerasan menjadi kencing bir yang diminum oleh ikan kecil dalam pesta pora di remang-remang pub, di hiruk pikuk musik dan teriakan nafsu betina meraung-raung menahan nikmatnya goyangan berbagai versi.
Harapan si ikan kecil untuk keluar dari kelam dasar lautan itu sulit dapat diwujudkan. Si ikan kecil butuh makan. Si ikan sedang butuh mangsa. Si ikan besar butuh ketenaran. Jika kepala si ikan kecil melongoh ke permukaan dan hendak memandang keluar dari jendela, si ikan besar melotot kemudian mengikatnya dengan hutang budi. Ikatan yang sangat kuat bagi ikan-ikan kecil. Ikatan untuk mempertahankan siklus kehidupan bawah laut yang amat kejam. 
 
   
 
 

Jumat, 18 Januari 2013

SURAT PAPA BUAT DIRTHA

Untuk anakku Dirtha 
Di RT Bahagia Kampung Sorga


Anakku,
Tak terasa sudah hampir tiga tahun lamanya papa tak lagi membathin.
Papa sibuk nak. Sibuk mengurus mama. Maafkan papa ya!
Tentu kamu sedang dipangku oleh Tante Angel.
Sampaikan ucapan terimakasih papa ke Tante Angel.
Bilang padanya, papa akan kirim bahan bangunan buat bangun rumah Dirtha di desa Sorga.

Anakku sayang,
Tahun 2012 lalu, mama sakit, nak!
Hati mama yang sakit. Itulah sebabnya papa sibuk.
Papa bekerja keras mengumpulkan puing-puing dari rumah kita yang hancur di kota yang ditinggali mama. Kota itu sudah gelap, nak. Tiada lampu di sana. Dan mama sudah tidak bersinar lagi. Tapi papa tetap menyayanginya. Mama adalah mamamu. Mama yang baik. Mama yang papa cintai selama-lamanya.

Anakku, kata Tuhan,
Anak-anak seperti Dirtha banyak sekali di Kampung Sorga. Beberapa belum punya rumah. Termasuk Dirtha. Mendengar bisikan Tuhan, bahwa kamu belum ada bahan untuk membangun rumah, Papa dan mama lalu sedih. Karena kami berdua belum berbuat sesuatu yang baik. Padahal Tuhan selalu mengingatkan papa dan mama untuk senantiasa berbuat baik. Bertingkah-laku baik. Hidup saling mengasihi dan menyayangi. Tidak boleh menyimpan dendam dan menghindari kehidupan duniawi yang berdasarkan pada kenikmatan sesaat, karena semua itu hanya akan menghasilkan penderitaan.

Tapi papa dan mama tidak mendengar kata Tuhan.
Itulah sebabnya tidak satupun perbuatan baik yang dapat kami berdua kirimkan ke Sorga sebagai bahan untuk membangun rumahmu di sana, nak. Tapi syukurlah Tuhan itu Maha Baik. Tuhan masih memerintahkan Tante Angel untuk menjagamu supaya kamu bisa makan dan hidup layak, meski belum punya rumah.

Anakku,
Surat ini ditulis papa pada bulan Januari 2013.
Sesaat setelah mama dan papa berjumpa pasca perkelahian sengit tentang ulah mama. Penyebab sesungguhnya hanya karena papa tak mampu memenuhi semua keinginan mama yang amat banyak.

Tapi jangan kuatir anakku.
Papa sudah tahan uji. Mama datang ke kota dan kembali ke hati papa.
Berdoalah agar mama menjadi baik.
Supaya mama dapat mengirim perbuatan baiknya sebagai bahan untuk membangun rumahmu di Sorga. Hanya sejauh informasi ini saja yang papa dapat sampaikan padamu anakku. Papa akan berusaha terus menerus untuk mengumpulkan kebaikan, sedikit demi sedikit. Bersabarlah anakku.

Sampaikan rasa terima kasihku kepada Tuhan.
Papa akan mengirim surat lagi bila sudah mengumpulkan bahan buat bangun rumahmu.
Ampuni kesalahan papa dan mamamu.

 

Kamis, 03 Januari 2013

PESAN

Sudah kupilih bibit terbaik dari buah yg kutanam 2 tahun lalu. Kupelihara dalam keyakinan dan kurawat dalam ketulusan. Kini menjadi pohon dengan buah yang sedikit kebaikannya. Buah-buahnya rusak membusuk dihantam angin laut. Pohon itu menuduhku sebagai penyebab buah-buah busuknya. Sesaat nampak hendak roboh dan menimpa diriku. Apa yg harus kulakukan untuk pohon ini? Haruskah kubisikan kepada badai agar mereka menjelma menjadi angin sepoi? Tidak mungkin, sebab badai terlampau ganas.

Tak semua orang bisa sekuat yang mereka pikirkan. Pikirannya akan selalu diuji dalam tekanan yg silih berganti sepanjang menjalani hidup, hingga suatu hari ia tiba pada sebuah simpulan yang selalu dibahasakan secara verbal sebagai sebuah "kesadaran". Padahal, sesungguhnya kesadaran bukan di akhir sebuah perjalanan. Kesadaran terletak di pangkal sebuah rencana.

Biarlah kemuliaan hujan menghapus jejak yang kutorehkan di tepi pantai sebelum ombak datang melindasnya seketika.

Pastilah kita semua menghindari chaos dan selalu melahirkan order... bagaimanapun kita memulai dari kebiasaan dalam merakit nilai menjadi perahu institusi, wadah yg akhirnya membawa kita pada tujuan bermasyarakat. Berkaryalah terus sahabat-sahabatku.... Temukan modelmu dalam kepiawaian menjahit "pemberontakan" dalam dialektika kehidupan. Aku disini merakit polaku. Maju terus, maju bersama. 

Kadang menjauh dari cinta itu lebih baik, bukan karena berhenti mencintainya, tetapi untuk melindungi diri dari rasa sakit.  

RINDU

Lolongan serigala di tepi laut Bitung mengundang hadir penghisap darah, bertengkar dalam club malam tentang sebuah nista. Kemarau Timika mengusirmu kembali dengan beban seribu berat. Tiada markas sebaik rumahmu. Tiada kasih sindah ibumu. Teladan jejaknya tak kau hiraukan. Hanya aura ayah dari selatan yang menghadirkan air mata kutukan di negri yang dibangun ibumu dengan martabat mulia. Di sana ia terus melambaikan tangan pertanda harap engkau kembali ke pangkuannya.

Kepada ilalang pangiang sampaikan salamku kepada daun jati di perkebunan pandu. Kepada rumput bukit pandu, titip rindu buat daun pisang pangiang. Lupakanlah darunu, bila kabut telah menutup langit jingga pantai patuku. Biarkan panas Makalehi terus membara dalam dada kaum tertekan yang sebentar lagi menjadi gembira sorak kemenangan di teluk tahuna. Karena kemanapun aku selalu memelukmu, hingga engkau kembali lagi ke peraduan dua bersaudara.

Lalu mengapa engkau terus berlari dalam suram yang gelap sambil berteriak dendam sehasta demi sehasta. Menumpulkan pasir-pasir baja-baja panas yang membakar dirimu hingga tak berasa. Dalam segala durhakamu, kutunggu kau di titik nol.